Rabu, 13 Juni 2012

Kesusastraan Inggris akhir pertengahan abad 20 Wilayah Asia:
Shalman Rushdie dan Anita Desai

       Di akhir pertengahan abad 20, terutama di wilayah Asia ada dua sastrawan yang sangat berpengaruh di dunia Literature.


·         Shalman Rushdie

a.      Penjelasan Singkat

Shalman Rushdie merupakan penulis novel berdarah India-Inggris, lahir di India, Mumbai 1947. Salah satu pengarang yang penting di akhir abad 20. Kebanyakan tulisannya beraliran realisme magis. Salah satu karyanya yang di kenal dan booming adalah Midnight’s Children, yang memenangi banyak penghargaan termasuk menjadi finalis di ajang Booker Prize. Namun ada satu karya lainnya yang sangat menuai kontroversi, sampai-sampai darahnya menjadi halal untuk umat islam (boleh di bunuh) karyanya itu berjudul The Satanic Verses. Di sekitar akhir abad pertengahan itu fatwa Ayatollah Khoemini, pemimpin negeri Iran tahun 1989, yang menghalalkan Shalman Rushdie untuk di bunuh, karena, dalam novelnya yang satu itu, syarat akan penghinaan terhadap umat Islam, menghina nabi Muhammad S.A.W, yang di duga dalam ceritanya tersebut di gambarkan dengan tokoh Mahound.

b.      Komentar Kritis

Saya hanya membaca sinopsisnya. Berikut saya sertakan dari salah satu website yang mengutipnya, Dalam kilas balik kehidupan Mahound yang berseting di Jahiliyah yang berupa mimpi atau penglihatan dari Gibreel, dikisahkan bahwa sang "Messenger" (perantara) dihadapkan pada pilihan sulit untuk berkompromi dengan adat politeisme. Pada saat ia ingin memperkenalkan sistem monoteisme yang diwahyukan kepadanya, hal tersebut ditentang oleh masyarakat setempat. Pada puncaknya ia harus memilih antara mengakui ketiga dewi utama Jahiliyah (Allat - bentuk wanita dari Allah, Uzza, dan Manah) sebagai setara dengan Allah dan … (Wikipedia)

Membaca kutipan sinopsi di atas, jika di pikir secara gambalang dan benar-benar realis, jelas sekali, sepertinya cerita tentang gambaran Nabi, Islam, semuanya di plesetkan dalam karyanya tersebut. Tentunya umat islam akan marah sebesar-besarnya. Namun, di lihat dari segi karya sastra, di mana terkadang sastra hanya fiktif belaka, yang kemudian di Inggris, karyanya tersebut begitu sangat di hargai, adalah ketika karya tersebut menjadi sesuatu yang harus di pikirkan, sedangkan untuk umat Islam, itu adalah keyakinan, haruslah di yakini bukan di pikirkan karena ada hal-hal yang tak dapat di jangkau oleh pikiran. Maka, secara sastra karyanya tersebut sah-sah saja, bahkan di nilai bagus karena kesemuanya bisa menjadi bahan pemikiran namun secara Islam itu menjadi ancaman, karena tersisipkan bumbu-bumbu yang  bisa menghancurkan keimanan.

c.       Dugaan-dugaan

Ada banyak hal yang bisa di terka/di duga, terutama mengenai penulisnya tersendiri, Shalman Rushdie. Setelah terbitnya novel tersebut, sehingga ia mendapat ancaman yang begitu keras, sehingga pemimpin Iran menyebutkan bahwa Shalman telah murtad, kemudian ia menulis essay yang menyatakan bahwa dirinya masih Islam, sama sekali tak bermaksud menghina Islam apalagi murtad. Di duga ia membuat karya tersebut untuk menjadi bahan pemikiran namun justru untuk memperkuat iman. Dugaan lain adalah ia memang seseorang yang sengaja menyisipkan bumbu-bumbu untuk menghancurkan Islam dalam karyanya tersebut.

d.      Pendapat dan Kesimpulan

Memang secara sastra semuanya bisa menjadi sah. Namun ketika menyentuh ranah religi/agama tidak bisa seenaknya mencantumkan apa-apa yang bisa di tulis. Seperti di sebutkan di atas dugaan-dugaan bisa saja memungkinkan namun tetap bisa menjadi kesalah-gunaan bagi para pembacanya.

Shalman Rushdie benar-benar meramaikan akhir pertengahan abad 20 dengan karyanya yang menuai kontroversi. Sebagai pembaca yang kritis kita harus bisa menilai dari berbagai segi sebagai bahan pertimbangan untuk menjadi bahan pelajaran yang bisa kita ambil dari dalamnya.

·         Anita Desai

a.      Penjelasan Singkat

Anita Mazumdar merupakan nama asli dari Anita Desai yang dikenal banyak orang sebagai seorang novelis ternama di sekitar akhir pertengahan abad 20. Ia terkenal karena ceritanya banyak mengambarkan kehidupan batin seorang wanita. Tidak seperti novelis di atas yang menuai kontroversi Anita banyak menulis karya dengan tema-tema seperti hilangnya tradisi, kehidupan perempuan, kemudian pandangan barat terhadap India yang stereotip. Karya pertamanya; Cry, The Peacock, membuatnya menjadi pemenang dalam Sahitya Academy Award. Karyanya itu sebagai penyemangat para penulis India untuk menulis dalam bahasa Inggris. Kemudian dalam karya lainnya yang menyentuh dua kebudayaan yang kontras, Amerika dan India; Fasting, Feasting, yang dari judulnya pun sudah terlihat kontrasnya, puasa,mengenyangkan. Di yakini itu lah yang menjadi kontras dua budaya.

b.      Komentar Kritis

Lewat karyanya ia menjadi penyemangat terutama bagi kaum wanita untuk menjadi penulis hebat seperti dirinya. Kemudian melihat dari karya-karyanya yang banyak mengenai perempuan, bahwa pada masanya, akhir pertengahan abad 20 itua, kaum wanita di rendahkan atau tak di akui kekuatannya atau tak di lihat apa kebisaannya, ini lah yang disebut kita bisa melihat sejarah melalui karya sastra. Selain itu ia juga menyentuh beberapa aspek budaya terutama India dan Amerika, bahwasanya sejak dulu ada kesenjangan/perbedaan yang kontras mengenai kedua budaya tersebut.

c.       Dugaan-dugaan

Melihat pembahasan di atas dugaan yang memungkinkan adalah bahwa Anita ingin menyorot kehidupan perempuan yang banyak di remehkan pada masanya, kemudian dugaan mengenai kebudayaan Amerika, yang mana yang patut di contoh dan di lestarikan, karena melihat dari karya-karyanya ada yang menyentuh mengenai hilangnya tradisi.

d.      Pendapat dan Kesimpulan

Melihat Anita Desai yang begitu gigih berusaha mengangkat derajat wanita di mata dunia sangatlah mengagumkan. Melalui sastralah ia memilih(terpilih) hingga menghasilkan banyak karya di masanya. Sungguh patut menjadi contoh bagi wanita-wanita yang ingin menjadi penulis.

Kemudian, dapat di simpulkan karya-karyanya ini memang di maksudkan untuk mengangkat derajat wanita di mata dunia.  Sebagai seorang penulis wanita ia menulis apa yang dirasakan oleh seorang wanita. Seperti itulah yang terjadi pada sekitar akhir pertengahan abad 20, terutama di Asia, banyak kesusastraan yang menjadi pembangun di daerahnya masing-masing, ada juga yang menuai kontroversi.


by: Moch Zaenal
Source: Wikipedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar